Salah Kaprah Shigat dalam Ijab Qabul Pernikahan

- Selasa, 28 Februari 2023 | 02:04 WIB
Pernikahan (Ikri/pixabay.com)
Pernikahan (Ikri/pixabay.com)

ISLAMADANIA.COM - Fathul Muin adalah salah satu kitab yang sering dikaji dan dijadikan kurikulum disiplin ilmu fikih Madzhab Syafii khususnya sebagian besar pondok pesantren di Indonesia. Kitab ini merupakan karya monumental dari seorang ulama besar, Syaikh Zainuddin Al Malibari.

Syaikh Zainuddin Al Malibari lahir sekitar tahun 938 H di Malabar, India Selatan. Nama lengkapnya adalah Zainuddin Ahmad bin Al Qadhi Muhammad Al Ghazali bin Syaikh Zainuddin Abi Yaha bin Syaikh Al Qadhi Ali bin Al Allamah Al Qadhi Ahmad Al Hindi Al Malibari Al Funnani Al Ma’bari Al Syafii.

Kitab Fathul Muin membahas cukup lengkap mencakup fikih ibadat, muamalat, munakahat hingga jinayat. Namun dari segi penulisan kitab Fathul Mu'in berbeda dengan kitab fikih lainnya. Dalam kitab fikih yang lain pada umumnya yang menjadi pembahasan awal adalah bab aturan bersuci (thaharah), sedangkan dalam kitab Fathul Muin Syaikh Zainuddin lebih awal membahas bab tentang shalat.

Baca Juga: Pengertian Sujud Sahwi, Tata Cara, Bacaan dan Sebab-sebab Dianjurkan Melakukannya

Anggap saja pemaparan di atas sebagai bahan landasan atau referensi untuk ke pokok persoalan mengenai salah kaprah shigat nikah yang sering terjadi di beberapa tempat teberdasarkan pengalaman penulis.

Dijelaskan dalam kitab Fathul Muin bahwa rukun nikah dalam Islam ada 5 yaitu:

1. Calon istri (pengantin perempuan)
2. Calon suami (pengantin laki laki)
3. Wali
4. Dua orang saksi
5. Ijab Qabul yang di dalamnya ada shigat.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa ijab qabul merupakan salah satu rukun nikah yang harus dilakukan ketika seseorang melangsungkan akad nikah, artinya pernikahan tidak sah apabila tanpa dilakukan ijab qabul. Ijab adalah ucapan wali (pihak perempuan) atau wakilnya sebagai penyerahan kepada pihak pengantin laki-laki. Sedangkan qabul adalah ucapan pengantin laki-laki atau wakilnya sebagai penerimaan.

Baca Juga: Isi Kandungan QS. Al Baqarah Ayat 168 -169 : Makanan yang Halal dan Baik

Namun kenyataannya sering terjadi di beberapa tempat masih banyak wali atau naib (wakil wali nikah) yang salah kaprah menerjemahkan shigat nikah khususnya dalam hal ijab. Yang sering saya jumpai kalimat shigatnya seperti berikut:

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau KEPADA fulanah (nama pengantin perempuan) dengan maskawin....dst.”

Perlu diketahui dalam fiqih tugas seorang wali atau naib adalah menikahkan pengantin perempuan, bukan menikahkan pengantin laki-laki. Sementara dalam kalimat ijab di atas menunjukan yang dinikahkan adalah pengantin laki-laki bukan pengantin perempuan. Kasus persoalannya jelas di mana dalam kalimat ijab di atas kata "FULANAH" (calon pengantin perempuan) disandingkan dengan kata "KEPADA."

Dalam ijab nikah, ini bukan persoalan mendahulukan fail atau maf'ul apabila ditinjau dari kaidah ilmu nahwu. Namun, ini merupakan persoalan ketidaksesuaian ketika lafal "ankahtuka wajawaztuka" diartikan sehingga menyebabkan kesalahkaprahan yang terus berlanjut di beberapa tempat. Padahal ijab qabul adalah bagian dari rukun nikah yang harus diperhatikan secara hati-hati terutama oleh dua orang saksi.

Baca Juga: Pj Gubernur Provinsi Banten Al Muktabar Bertekad Kembalikan Kejayaan Teluk Banten

Halaman:

Editor: Bakri

Sumber: Fathul Muin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menuju Indonesia Maju 2045

Jumat, 10 Maret 2023 | 17:52 WIB

Salah Kaprah Shigat dalam Ijab Qabul Pernikahan

Selasa, 28 Februari 2023 | 02:04 WIB

Partai Komunis Indonesia dan Nahdlatul Ulama

Selasa, 7 Februari 2023 | 11:17 WIB

Kunjungan diplomatik China terhadap Yaman

Rabu, 4 Januari 2023 | 18:05 WIB

Kompleksitas Feminis dalam Sudut Pandang Islam

Minggu, 1 Januari 2023 | 10:00 WIB

Mengkaji Kitab Lawaqihu al-Anwari al-Qudsiyati

Senin, 21 November 2022 | 17:37 WIB

Tadarus Jiwa Dalam Perspektif Filsafat Idealisme

Selasa, 8 November 2022 | 15:25 WIB
X